Oleh: Rudy Prabowo
Sejarah singkat awal mulanya
Pecah perang Diponegoro 1825 masing-masing menggunakan strategi politik dan kultur masyarakat. Beberapa pengageng Karaton keluar dari karaton membuat pertahanan diberbagai daerah salah satu diantaranya GRM. Sulaiman dengan membawa pengikut yang mempunyai keahlian yang berbeda-beda. Beliau menuju ke arah barat sampai disuatu daerah yang banyak pohon kemiri.
GRM. Sulaiman merupakan putra dari Nyai Ngadiluweh dan Pakubuwono VI. Singkatnya GRM. Sulaiman menunaikan ibadah haji ke mekah dan berguru selama 5 tahun disana. Pada tahun 1840 pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan peraturan yang disebut Kantor Voor Inlandse Zaken atau saat ini bisa disebut sebagai kantor urusan agama (KUA) khususnya agama islam. Jadi semua yang agama islam didata. Saat itu GRM. Sulaiman yang namanya berubah menjadi Tuan Guru H. Muhammad Haris mengumpulkan ulama se kabupaten Kutoarjo dan Purworejo yang keputusannya peraturan tersebut harus dimanfaatkan diambil oleh masing-masing distrik (kawedanan) yang ada hubungannya dengan pihak Karaton/Kerajaan. Ulama-ulama tersebut disebut pengulu.
Ki Dullah Sajadi I merupakan salah satu ulama yang kemudian diangkat menjadi pengulu disatu desa rowobayem kemiri yang ikut andil memanfaatkan kesempatan ini. Ki Dullah Sajadi I masuk dalam lingkaran ulama yang sebelumnya sudah disatukan oleh Tuan Guru H. M. Haris. Secara turun temurun Ki Dullah Sajadi menurunkan anak cucunya menjadi pengulu untuk desa tersebut. Terakhir jabatan pengulu didesa tersebut dijabat oleh Ki Dullah Sajadi III kurang lebih berakhir hingga wafatnya berkisar 1950an. Ki Dullah Sajadi III beristri Nyi Dullah Sajadi III yang awalnya mulanya berasal dari kebumen. Ki Dullah Sajadi III selain berprofesi sebagai pengulu juga merupakan petani yang menggarap tanah garapan pemberian pemerintah kolonial pada saat itu sebagai gaji seorang pengulu. Sedangkan Nyi Dullah Sajadi III merupakan seorang pedagang kecil dipasar Kemiri yang membantu suaminya mencukupi kebutuhan sehari-hari. Nyi Dullah Sajadi III merupakan cucu wareng (Turunan ke 5) dari Ki Kertosuto yang merupakan putra pertama dari Ki Bodronolo (Ki Panjer I).
Pernikahan antara anak Kiai dan anak Karaton terjadi pada saat itu mungkin untuk memperkuat dakwah Islam. Ki Dullah Sajadi III dan Nyi Dullah Sajadi III mempunyai anak Raden Kastowirono (Ketua Ranting NU Rowobayem pada zamannya) sebelumnya Ki Dullah Sajadi III juga merupakan ketua ranting NU. Raden Kastowirono menurunkan 4 anak yaitu Bawon, Amat Sukur, Mujirah dan Naryati. Dari Amat Sukur menurunkan Muhammad Saktioko dan Rudy Prabowo. Selanjutnya sejarah Rudy Prabowo akan diulas di Edisi Sejarah Keluarga II. (RP)
Foto 1: Makam Ki Dullah Sajadi

