Oleh: Rudy Prabowo
Aset
Tetap
Aset Tetap dibagi
menjadi 2 yaitu Aset tetap Berwujud dan aset tetap tidak berwujud.
Aset Tetap berwujud
merupakan aset yang digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan atau badan
usaha untuk menunjang kegiatannya. Misalnya adalah Mesin produksi, Kendaraan,
Tanah, bangunan serta peralatan lainnya. Semua aset tetap terkena depresiasi
kecuali tanah dihitung sesuai fair value (nilai
wajar) tidak ada penyusutan jika direvalusi bahkan nilainya akan meningkat.
Aset Tetap tidak berwujud
adalah aset yang mempunyai nilai tetapi tidak terlihat wujud fisiknya misalnya
hak paten, perizinan, merk dagang, goodwill dan lain sebagainya. Sama seperti
aset berwujud ada penyusutannya juga untuk aset tidak berwujud tapi berbeda
nama jika di aset tidak berwujud bernama amortisasi aset tidak berwujud.
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 19 aset tak berwujud adalah aset
nonmoneter yang tidak ada wujud fisik tapi mampu menambah nilai ekonomi suata
badan usaha dalam kegiatan operasinya.
Contoh Aset Tetap:
Euis sebelumnya adalah
seorang pegawai salah satu perusahaan
swasta di tangsel. Karena sering main ke pemancingan tanpa diduga ide usaha
muncul dalam benak euis. Banyak peluang yang dilihat oleh euis salah satunya
adalah nitip gorengan di pemancingan. Tapi setelah dipikir-pikir lagi capek
juga harus belanja ke pasar beli bahan-bahan dan masak juga. Euis merupakan
tipe orang yang tidak mau ribet yang penting usaha cepat ada hasil. Euis coba
berpikir lagi, setelah dipelajari dan ditelaah ternyata banyak pemancingan di
daerah Tangerang Selatan dan sekitarnya. Euis mencoba peluang usaha jual
pancingan dan perlengkapan yang terkait. Dengan keahlian komunikasinya euis
dapat menghipnotis para kaum adam agar mau beli peralatan pancing darinya.
Karena pemesanan sudah mulai banyak dari berbagai kalangan euis mulai mendirikan
CV. Euis Pancing Yuk. Usaha semakin
maju maka euis membutuhkan mobil operasional untuk memasarkan alat-alat
pancingnya ke kalangan eksekutif. Euis dengan menggunakan nama CV membeli sebuah
mobil sedan seharga Rp 120 juta pada 1 Januari 2018. Euis juga membeli 6 unit komputer pada 1 januari 2018 untuk kantornya
padahal pegawainya ada 4. Satu unit
komputer seharga Rp 6 juta per unit. Saya tetap masih berpikir positif aja ke
Euis mungkin buat cadangan atau Euis sekalian mau buka kursus komputer kali
hehehe.... Tapi komputer yang dua itu akhirnya euis bayar pakai duit sendiri
karena Euis sadar jangan sampai kecampur bisnis yang satu dan bisnis lainnya
yang akan dibuka Euis. Nah... Pertanyaannya adalah bagaimana penyusutan mobil
dan komputer yang dibeli oleh perusahaan
Euis?
Jawaban:
Disini kita menggunakan
contoh perhitungan fiskal pajak
Penyusutan Mobil:
Harga Mobil Rp 120 juta.
Dihitung secara fiskal dengan menggunakan metode garis lurus adalah selama 8
tahun masuk kelompok aktiva berwujud golongan 2. Artinya 8 tahun ada 96 bulan. Maka 120 juta
dibagi 96 bulan adalah 1 juta 250rb per bulan.
Penyusutan mobil per
bulan : 120juta : 96 bulan = 1 juta 250rb perbulan. Berarti penyusutan untuk
tahun 2018 Rp 30 juta. Penyusutan fiskal setahun 30 juta sampai Desember tahun 2021. Jadi sampai dengan desember 2021
penyusutan total 120 juta habis tanpa nilai sisa.
Penyusutan Komputer:
Harga Komputer: Rp 6
juta / Unit. Ada 4 unit total = 6 juta X 4 unit = Rp 24 juta.
Komputer masuk dalam
aset berwujud kelompok 1 artinya disusutkan selama 4 tahun pajak
Harga komputer Rp 24 juta
/ 48 bulan = Rp 500.000 per bulan. Jadi pertahun penyusutannya adalah Rp 6
juta. Tahun 2018 penyusutannya Rp 6 juta. Penyusutan sampai tahun 2021 bulan desember.
Jadi total penyusutan sampai desember 2021 adalah Rp 24 juta.
Contoh Aset Tak
Berwujud:
Bu Gita adalah guru
bahasa Indonesia yang sudah malang melintang didunia pendidikan bahasa. Dalam
suatu kesempatan bu guru Gita ditugaskan ke Bali dari tempat kerjanya untuk
mengajar anak-anak sekolah di Bali. Mengajar dari pagi hingga siang membuat bu
Guru Gita kelelahan. Tapi dengan semangat juangnya untuk meneruskan pendidikan
Doktor Ilmu Bahasa dia mencoba mengajar dengan membuka kursus dengan bendera CV. Gita Bahasa Kita yang bergerak dibidang pelatihan Bahasa Indonesia bagi turis-turis asing. Bu
Gita lalu membuat perijinan usaha les privat bahasa indonesianya. Dengan kerja
keras dan mental yang kuat akhirnya Bu Gita berhasil membuat perijinan usaha CV
nya dengan biaya Rp 1,8 juta pada januari 2018. Ijin Operasinalnya secara fiskal pajak hanya
berlaku 4 tahun pajak. Bagaimana perhitungan amortisasinya?
Perijinan Bu Gita masuk
Amortisasi Kelompok 1 yakni 4 tahun dengan amortisasi garis lurus
Amortisasi Perijinan:
Rp 1,8 juta : 48 bulan = Rp 37.500. Jadi biaya amortisasi per bulan adalah Rp
37.500. Jadi biaya amortisasi pada 2018 adalah Rp 450rb. Perijinan diamortisasi
sampai Desember 2021 tanpa nilai sisa. Jadi Amortisasi pertahun adalah Rp 450rb
sampai 4 tahun artinya sampai Desember 2021.
Akuntansi adalah seni
mencatat maka bagaimanapun caranya tujuannya tetap sama, seperti bermain gitar
banyak cara untuk menciptakan alunan melodi yang terpenting tidak fals dan
seirama dengan lagu. Selamat Menikmati semoga bermanfaat.
Referensi:
PSAK 19 Aset Tak
Berwujud