Jasa Akuntansi, Pembukuan Dan Perpajakan, laporan keuangan, SPT tahunan Rudy

Rabu, 15 September 2021

Tombak Baru Klinting Ki Ageng Mangir IV/Wonoboyo III

 

Goro-goro yang terjadi pada Majapahit membuat para keturunan Brawijaya V terpencar ke berbagai penjuru tanah Jawa dan Bali. Berdirinya Demak dan runtuhnya Majapahit di era Girindrawardana membuat beberapa kerabat Majapahit terpencar dan mengembara mencari tempat baru untuk memulai hidup yang lebih baik lagi diantaranya ada Pangeran Megatsari/R. Megatsari salah satu putra Brawijaya V. Raden Megatsari dalam pengembaraannya menemukan tempat di daerah Bantul yang disebut Mangir karena disitu banyak ditemukan pohon Mangir. Raden Megatsari dengan aura kewibawaan yang dibawa dari ayahnya yang merupakan raja Majapahit terakhir berhasil membangun sebuah pedukuhan yang disebut pada saat itu Pedukuhan Mangir. Lambat laun seiring berjalannya waktu Mangir menjadi ramai dan mulai banyak penduduk datang dan singgah di Mangir. Mangir dikenal dengan Tanah Perdikan Mangir diperoleh melalu Topobroto Ki Ageng Mangir I.

Raden Megatsari mempunyai anak bernama R.Rr. Wulandari selanjutnya dikenal dengan nama Nyi Ageng Mangir II. Ada dua versi dalam sejarah Mangir ini terkait siapa yang menjadi Ki Ageng Mangir II. 

Versi 1

Ki Ageng Mangir II/R. Joko Wonoboyo adalah anak dari R. Bondan Surati yang juga merupakan putra dari Prabu Brawijaya V menikah dengan Nyi R.Rr. Wulandari anak dari Ki Ageng Mangir I

Versi 2

Ki Ageng Mangir II adalah anak  dari Sayyid Abdul Muhyi Azmatkhon anak dari Sunan Ampel/R. Ali Rahmatulloh Azmatkhon

Silsilah Ki Ageng Mangir

Prabu Brawijaya V

Turunannya

1. R. Megatsari/Ki Ageng Mangir I

2. Nyi R.Rr. Wulandari/Nyi Ageng Mangir II/Wonoboyo I

3. Ki Ageng Mangir III/Wonoboyo II

4. Ki Ageng Mangir IV/Wonoboyo III


Asal-Usul Baru Klinting

Ki Ageng Mangir II/Wonoboyo I terkenal dengan Tombak Baru Klintingnya. Tombak Baru Klinting mempunyai tuah yang sangat adidaya dan memiliki daya magis yang sangat kuat. Ki Ageng Mangir Wonoboyo I dalam suatu ketika mendapatkan wangsit untuk melakukan tapabrata diwilayah Rawa Pening. Namun dalam perjalanan Ki Ageng mampir disuatu desa beliau tidak tampak sebagai seorang penguasa. Didesa tersebut Ki Ageng menikahi Putri Jalegong hingga suatu ketika Putri Jalegong mengandung. Namun Ki Ageng mendapat wangsit untuk segera melakukan tirakat tapabratanya di Rawa Pening. Sebelum meninggalkan Jalegong Ki Ageng tidak lupa meninggalkan sebuah pusaka untuk tanda bahwa jika anak Putri Jalegong lahir itu berarti anak Ki Ageng Mangir Wonoboyo I. Ki Ageng segera meninggalkan Jalegong dan meneruskan pengembaraannya ke Rawa Pening. Selesai melakukan tapa Ki Ageng kembali ke Mangir sampai suatu ketika istri Ki Ageng melahirkan anak laki-laki yang kemudian kita kenal dengan Ki Ageng Mangir III/Wonoboyo II.

Ditempat yang lain tahun bertambah tahun Baru Klinting yang sekarang sudah dewasa. Dinamakan Baru Klinting karena sewaktu masih anak-anak Baru Klinting suka menghilang tiba-tiba dan ibunya suka kebingungan mencari Baru Klinting sehingga diikatkan semacam lonceng agar dapat diketahui jika anaknya pergi. Setelah dewasa Baru Klinting mulai sadar bahwa dirinya harus mencari tahu siapa ayahnya. Suatu ketika Baru Klinting bertemu dengan Ki Ageng Mangir II/Wonoboyo I dan menuntut untuk diakui sebagai anak. Baru Klinting memang bukan anak sembarangan kedigdayaannya sudah terasah sejak dini. Konon Baru klinting memperlihatkan kemampuannya melawan ular besar disaksikan oleh ayahnya dan Baru Klinting berhasil menaklukan ular tersebut serta dipotong lidah ular tersebut dijadikan pusaka. Lalu pusaka itu dijadikan mata tombak oleh Ki Ageng Mangir II/Wonoboyo I. Tombak Baru Klinting yang sangat digdaya tersebut sangat ditakutkan beberapa para petapa sakti.


Ki Ageng Mangir IV/Wonoboyo III

Pada perjalanannya Ki Ageng Mangir III/Wonoboyo II yang lahir dari istri pertama Ki Ageng Mangir II/Wonoboyo I menjadi pemimpin diperdikan Mangir. Tombak Kiai Baru Klinting diwariskan kepadanya. Ki Ageng Mangir II/WonoboyoI juga merupakan murid Sunan Kalijaga. Jadi Ki Ageng Mangir mulai dari Ki Ageng Mangir II hingga IV sampai terus keturunan kebawahnya sudah banyak yang beragama islam.

Mangir mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Ki Ageng Mangir IV/Wonoboyo III. Kita sebut saja Ki Ageng IV untuk mempermudah. Ki Ageng IV ini yang menjadi menantu Panembahan Senopati Sultan Mataram Islam ke I. Cerita beredar terkait Ki Ageng Mangir IV banyak sekali tetapi beberapa keturunannya ada yang meyakini bahwa Ki Ageng Mangir ini tersebut tidak berkonflik dengan Panembahan Senopati tetapi bersama-sama membangun Mataram dalam bingkai Kerajaan Islam. Ki Ageng Mangir mempunyai anak satu-satunya yang lahir K.R. Pembayun dengan nama R.M. Maduseno yang menjadi cikal bakal telik sandi Mataram. Keturunan Mangir banyak tersebar di Jawa Tengah seperti Cilacap, Banyumas, Kebumen dan Purworejo. Keturunan dari Mangir sendiri banyak yang menjadi Penguasa didaerah Kebumen yang dahulu disebut dengan Panjer Gunung dan Panjer Roma. Salah satu keturunan Mangir yang terkenal dari Trah Kolopaking yang pada masa Orde Baru mengisi jabatan-jabatan penting salah satunya intelijen yang memang diwarisi dari darah Eyang kami tercinta yang biasa dahulu disebut Nyai Adisoro. 


Darah Mangir dikenal darah oposan. Keturunan Mangir dikenal keras dalam mengambil tindakan jika itu sudah menyangkut kepentingan rakyat/umum. Hobi mengkritik kebijakan yang menindas rakyat tanpa disadari sudah mengalir dalam dirinya. Trah Mangir umunya sudah biasa menghadapi masalah dalam tekanan politik yang menindas dirinya dan tidak hanya terkenal dengan oposannya rata-rata keturunan Mangir mempunyai kecerdasan yang melampaui jamannya dan memberikan solusi atas permasalahan. Beberapa keturunan Mangir seperti Raden Saleh, Pramudya Ananta Tour, S.M. Kartosuwiryo, Basuki Abdullah dan lain sebagainya yang tidak dapat disebutkan satu persatu.



Bismillah doa kami yang baik-baik selalu menyertai para leluhur baik dari Eyang P. Senopati maupun dari Eyang Mangir IV/Wonoboyo III.





Minggu, 05 September 2021

Raden Paku Mengubah Pesantren Menjadi Kerajaan Islam Yang Disegani (Part 1)

 

Raden Paku lahir dari rahim seorang putri Raja Blambangan yang bernama Dewi Sekardadu. Prabu Menak Sembuyu yang masih keturunan Prabu Hayam Wuruk ini bertahta di Blambangan atau sekarang lebih dikenal Banyuwangi. R. Paku dibuang ke samudera lepas atas provokasi dari Patih Bajul Sengara. Patih Bajul Sengara sangat tidak senang kepada Raden Paku dikarenakan Patih Bajul iri terhadap Maulana Ishak yang memimpin sebuah Kadipaten di bawah kekuasaan Blambangan dan maju. Selain itu Patih Bajul Sengara sangat mencintai Sang putri Dewi Sekardadu tetapi cintanya bertolak sebelah tangan. 

Dikisahkan Pagebluk wabah penyakit sedang melanda Blambangan. Maulana Ishak menawarkan jika Ia bisa menyelesaikan masalah pagebluk wabah penyakit tersebut dan bisa menyembuhkan Putri satu-satunya Raja Blambangan tersebut meminta Raja Blambangan tersebut memeluk agama islam. Raja juga berjanji siapapun yang bisa menyembuhkan sang putri jika itu laki-laki maka akan dinikahkan dengan sang putri dan jika itu perempuan akan diangkat menjadi saudara. Dikisahkan bahwa Maulana Ishak dapat menyembuhkan penyakit sang putri dan berhasil mengusir wabah dari bumi blambangan. Maulana Ishak pada akhirnya dapat menikahi Dewi Sekardadu dan kehidupan mereka aman tenteram damai. Mereka mendapatkan buah hati yang diberi nama Raden Paku. Kehidupan mereka mulai terusik dengan fitnah-fitnah Patih Bajul Sengara. Maulana Ishak dituding sebagai biang rusuh adanya kembali wabah dengan memfitnah Raden Paku sebagai anak pembawa sial. Agar tidak terjadi pertumpahan darah Maulana Ishak mengalah dan izin kepada istrinya untuk ke Pasai. Dewi Sekardadu dalam kondisi kebingungan lalu bagaikan mendapat bisikan untuk menghanyutkan Raden Paku ke laut. Diketemukanlah Raden Paku oleh para pelaut yang bekerja pada Nyai Gede Pinatih. Setelah dilihat peti yang membawa Raden Paku bukan peti biasa alias hanya dimiliki oleh keluarga bangsawan lalu dibawalah peti itu ke Sunan Ampel. Sunan Ampel ingat akan sahabatnya yakni Maulana Ishak yang menitipkan pesan jika menemui anak dengan ciri seperti ini dia adalah anakku tolong berikan dia nama Raden Paku.

Silsilah Sunan Giri (Raden Paku) dari Majapahit

Prabu Hayam Wuruk

Turunannya

1. Bhre Wirabhumi

2. Menak Sembuyu

3. Dewi Sekardadu

4. Sunan Giri (Raden Paku)

Sunan Giri dikenal sebagai sosok yang sangat merakyat dan dikelilingi oleh rakyatnya serta selalu menjalin komunikasi dengan rakyatnya secara langsung. Pemimpin yang mempunyai visi misi besar dalam membangun peradaban islam. Bagaimana Sunan Giri membangun itu semua? kita tunggu part 2 ya. Sejarah bisa dijadikan pelajaran bagaimana para leluhur membangun sebuah peradaban serta kita yang hidup pada saat ini menyempurnakan lebih baik lagi.














Sabtu, 04 September 2021

Panembahan Senopati Khalifatullah Ing Mataram Islam

 Panembahan Senopati

Bukan hal yang rahasia lagi tentang kisah Ki Ageng Mangir Wonoboyo IV dan Panembahan Senopati. Banyaknya cerita yang saya anggap masih simpang siur dan perlu dikaji lagi keakuratannya.

Panembahan Senopati terlahir dari seorang ibu bernama Raden Ayu Sabinah atau biasa dikenal dengan Nyai Sabinah. Nyai Sabinah merupakan cicit dari Kanjeng Sunan Giri yang bertahta di Giri Kedaton pada jamannya. Dirunut dari silsilahnya Panembahan Senopati masih keturunan Prabu Brawijaya V Raja terakhir Majapahit. Berikut susunan silsilah Panembahan Senopati dari Prabu Brawijaya V:

Prabu Brawijaya V

Turunannya:

1. R. Bondan Kejawan

2. Ki Ageng Getas Pendawa

3. Ki Ageng Selo

4. Ki Ageng Henis

5. Ki Ageng Pamanahan 

6. Panembahan Senopati/R. Danang Sutawijaya

Panembahan Senopati mendirikan Mataram Islam setelah Pajang dikalahkan dalam perang disekitar Merapi. Dikisahkan dari cerita pada umumnya ketika itu Merapi sedang memperlihatkan kegagahannya dengan menyemburkan awan panas. Seketika saja pasukan pajang terjebak dalam lumpur panas dan kembali pulang ke Pajang. Tidak lama setelah itu dikabarkan Sultan Pajang Sakit dan tidak lama kemudian meninggal. R. Danang Sutawijaya yang diangkat anak oleh Sultan Hadiwijaya dengan penuh hormat kepada ayah angkatnya datang melayat ke Pajang. Ketika itu pula Perdukuhan Mataram melepaskan diri dari Pajang dan menjadi Negeri yang merdeka. Ketika Pajang dipimpin oleh Arya Pangiri bergelar Prabu Ngawantipura. Berkuasa kurang lebih 3 tahun Arya Pangiri lengser karena pemerintahannya disibukkan dengan misi balas dendam dengan Mataram. Pangeran Benowo yang seharusnya menjadi putra mahkota merasa berhak atas tahta Pajang. Didukung Ibu Suri Ratu Mas Cempaka (Cucu Sunan Kalijaga) mendukung penobatan P. Benowo dengan dukungan R. Danang Sutawijaya. Pada akhirnya Pangeran Benowo naik Tahta dan Arya Pangiri dikembalikan ke Demak menjadi Adipati.

Nampaknya wahyu keprabon Kerajaan Islam di Jawa berpihak pada Mataram. Pangerang Benowo naik tahta dengan gelar Prabuwijaya. Bertahta singkat hanya 2 tahun P. Benowo memilih menyerahkan Pajang kepada Kakak angkatnya R. Danang Sutawijaya. R. Danang Sutawijaya menolak bertahta dipajang lebih memilih tetap di Mataram menjadi pusat kerajaan.


 


Dikabarkan bahwa P. Benowo memilih jalan hidup sebagai pendakwah. Setelahnya Pajang diserahkan kepada R. Danang Sutawijaya dengan memilih R. Gagak Baning sebagai Adipatinya dan berdirilah kesultanan Mataram Islam di Kotagede. Setelahnya R. Danang Sutawijaya Jumeneng dengan Gelar Panembahan Senopati Ing Alaga Khalifatullah Sayyidin Panatagama Ing Mataram Islam. Panembahan Senopati memimpin Mataram Islam kurang lebih 15 tahun sejak 1586. Raja kedua Mataram Prabu Hanyokrowati menikah dengan Dyah Banowati atau biasa disebut Ratu Mas Hadi merupakan anak dari Prabuwijaya raja Pajang Terakhir. Dalam tradisi jawa menurut penulis dengan segala keterbatasan pengetahuan berpendapat bahwa yang melanjutkan tahta kerajaan seprti terlihat pada umumnya selalu berlanjut ada hubungannya dengan kerajaan sebelumnya. Jadi terlihat bahwa dengan dinikahkannya Prabu Hanyokrowati dengan Dyah Banowati jelas bahwa semua Raja Mataram masih ada darah dari Sultan Hadiwijaya/Jaka Tingkir Raja Pajang pertama. Kecuali Panembahan Senopati dan Panembahan Hanyokrowati. Raja Kedua Mataram masih keturunan Sunan Kalijaga.




 

Konon Para Raja dan para wali sangat memahami konsep bibit unggul oleh sebab itu darah raja dianggap darah unggul dan harus tetap murni terpelihara. Maka dalam tradisi kerajaan adanya perkawinan antara sesama darah biru untuk menjaga kemurnian trah. Apa yang dilakukan oleh raja-raja mataram menggambarkan menjaga kemurnian trah mulai dari Panembahan Senopati yang mempunyai permaisuri Ratu Mas Waskita Jawi yang merupakan putri Ki Ageng Penjawi (Penguasa Pati). Ki Penjawi merupakan anak dari R. Ayu Panengah/Nyai Ageng Ngerang III putri Sunan Kalijaga. Jadi mulai dari Raja kedua Kasultanan Mataram Islam Panembahan Hanyokrowati adalah keturunan dari Kanjeng Sunan Kalijaga melalui jalur Ratu Mas Waskita Jawi dan Keturunan Sunan Giri melalui jalur R. Ayu Sabinah/Nyai Gede Pamanahan. Dari Keduanya masih mengalir darah Kanjeng Nabi Muhammad, S.A.W. melalui Sunan Giri dan Sunan Kalijaga. Dasar kenegaraan islam sudah dipupuk oleh beliau sejak Mataram Islam berdiri.